Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2008

Mengaku Rasul: Sesat

Sejak 5 juni lalu sebuah film religi baru sudah tayang, Mengaku Rasul. Mengaku Rasul ini berangkat dari banyaknya ajaran sesat dimana pemimpin ajaran itu mengaku sebagai rasul baru yang diutus untuk melakukan penyucian aqidah penganutnya. Inilah yang terjadi pada Guru Samir (Ray Sahetapi). Lewat padepokannya, Guru Samir memanfaatkan agama untuk meraih harta dan kekuasaan.

Dalam film ini juga, diceritakan Guru Samir tengah berdiri di atas mimbar mushalla, berceramah dengan penuh membara di hadapan santri-santrinya. “Kalianlah manusia yang terpilih oleh Allah, untuk menjadi ummatku. Sebagaimana ummat rasul-rasul terdahulu, kalian semua akan masuk surga bersamaku. Alhamdulillah! Sambutlah jalan yang terbuka lebar menuju pintu surga Allah!”

Sementara itu, di luar mushalla warga kampung sekitar datang berbondong-bondong, menggenggam obor dan bahan bakar. Dengan wajah penuh amarah-atas segala kesesatan ajaran Guru Samir- warga membakar mushalla beserta seisinya. Santri-santri histeris, berlarian keluar dengan badan terbakar api. Sedangkan Guru Samir tidak bergerak sedikitpun dari posisinya semula, tetap tegap berdiri saat jilatan api menggeregoti tubuhnya.

Berita kematian Guru Samir beserta pengikutnya menjadi bahan obrolan panas di kalangan warga desa. Namun tak disangka, terjadilah kemukjizatan. Guru Samir tiba-tiba hadir kembali di tengah-tengah warga desa, dan mengklaim dirinya telah dibangkitkan kembali oleh Allah dari kematian. Benarkah Guru Samir adalah seorang rasul yang diberi kemukjizatan oleh Allah?

Film ini terbilang unik, cukup orisinil dari segi ide cerita, serta cerdik memanfaatkan isu aliran sesat yang sedang santer di negara kita. Jalan ceritanya penuh teka-teki dan tanda tanya, sehingga cukup merangsang kita untuk menebak-nebak kelanjutan cerita, serta jawaban terhadap misteri yang muncul. Contohnya adalah kesaktian/ mukjizat Guru Samir yang dapat berada di dua tempat sekaligus, atau tangan yang pulih kembali setelah ditebas pedang.

Sayang, tidak semua teka-teki yang muncul mendapat jawaban yang memuaskan, bahkan beberapa terkesan dipaksakan. Oya, foto yang di poster ko' tokoh wanitanya pake cadar ya?! Prasaan dari awal sampe akhir Rianti ato tokoh wanita yang lain ga pernah pake cadar ato sejenisnya. Mo kaya A2C yah.. please deh!!

Kembali ke cerita, Negeri ini memang tak pernah berhenti dari terpaan peristiwa aneh, namun tetap saja diamini publik. Masih ingat ketika Menteri Agama percaya kepada mimpi tentang harta karun hingga harus merusak situs purbakala beberapa tahun silam? Kini kasus senada kembali terjadi. Seseorang mengaku ilmuwan sanggup membuat air sebagai pengganti bahan bakar bensin. Ah, aya aya wae... Berkaca dari peristiwa macam itulah film ini menjadi relevan.

Satu poin lagi perlu garisbawahi, Aku pikir adegan penyerangan, pembakaran musholla dan seisinya, yang di film tersebut dianggap sebagai “peristiwa heroik”, tidaklah tepat. Bagaimana pun juga, pengikut-pengikut Guru Samir bukanlah setan-setan yang harus dimusnahkan, melainkan korban dari doktrin-doktrin sesat yang Guru Samir ajarkan. Apalagi, peristiwa itu juga dipicu oleh pencabulan yang dilakukan Guru Samir terhadap salah seorang anak gadis warga, tentu hal tersebut murni kesalahan individu, bukan kelompok.

Seharusnya sutradara bisa “memberi contoh” yang lebih arif, dalam menyikapi “aliran sesat” di tengah-tengah ummat Islam. Pun jika sutradara memandang adegan itu bukanlah untuk “memberi contoh” melainkan “menggambarkan realita yang ada”, apa bedanya dengan film ML (Mau Lagi) yang sukses “memvisualisasikan” realita di kalangan remaja?

Genre Film Nuansa Religi, Sebuah Asa Sineas Indonesia

Oleh : Dadan Rusmawan

Beberapa hari lalu, “Audisi Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih” digelar rencananya audisi ini akan digelar di sembilan kota untuk mendapatkan lima pemeran tokoh Azzam, Eliana, Furqon, Anna dan Husna, ujar Heru Hendriyarto, produser SinemArt Pictures, Kamis pekan lalu, di dalam jumpa pers di Jakarta.

Hal ini dilakukan setelah ditekennya MOU antara Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) penulis novel deng judul yang sama, dengan pihak produser film, dimana di dalam MOU itu, Kang Abik sendiri-lah yang memilih para aktris dan aktor Film Ketika Cinta Bertasbih. Hal itu, diungkapkannya dalam dalam acara Seminar Pergaulan Islam Manarul Ilmi Expo 2008 hari jumat (29/02) silam.

Menurut Kang Abik, ia tidak ingin kejanggalan antara novel dan film terjadi kembali, seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta, dimana Pertemuan Fahri dan Maria itu tidak disengaja… entah kenapa di film terlihat pertemuan yang disengaja.”

Kang Abik menginginkan artis yang didalam film dan diluar film nantinya berjilbab. Jadi harus berjilbab syaratnya. Dia juga harus bisa mengalahkan Rianti Cartwright atau Luna Maya. Bahkan Kang Abik juga mengajukan LDK supaya menyediakan 3 ikhwan dan 3 Akhwat untuk dicasting sebagai pemain Ketika Cinta Bertasbih. Kemungkinan keenam pemaian yang dicasting akan memerankan tokoh sentral Azzam, Anna Althafunnisa, Eliana dan Furqan. Ntar Kang Abik sendiri yang akan mencari pemain-pemainnya dan akan menjamin kualitas dari pemain terpilih tersebut, jelasnya.

“Film Ketika Cinta Bertasbih” walaupun masih dalam proses. Namun semua pihak dalam pembuatan film ini berharap (bermimpi) semua orang yang ingin menghadirkan sebuah film yang baik bukan hanya dari sisi cerita, tetapi juga keteladanan para aktornya.

Menurut pihak “Film Ketika Cinta Bertasbih”, mereka tidak main-main dalam rencana pembuatan film dakwah ini.

Semoga per-film-an Indonesia bangit kembali setelah cukup lama tenggelam, dan menyuguhkan hiburan yang mendidik, bukan hanya sekedar mencari untung semata. Bravo 100 Tahun Kebangkitan Bangsa?


Selasa, 29 April 2008

Film Film Indonesia Yang ( Pernah ) Dicekal

Berbicara mengenai film, mungkin sampai beberapa halamanpun tidak akan tamat, karena banyak sekali film-film produksi Indonesia mulai tahun 1920 sampai sekarang. Pada tahun 90 film kita pernah merajai bisokop-bioskop yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, untuk generasi sebelum tahun 80 pasti ingat film-film seperti Catatan Si Boy, Inem Pelayan Seksi, Akibat Pergaulan Bebas, Badai Pasti Berlalu, Binalnya Anak Muda sampai film-filmnya group Warkop DKI seperti Kanan Kiri OK, Dongkrak Antik, dll.

Namun berbicara mengenai film-film yang pernah dicekal, tentu kita masih bisa menghitungnya ( itupun yang ketahuan.....), untuk itu mari kita sedikit menengok kebelakang, sensor terhadap media di Indonesia diberlakukan dalam berbagai tingkatannya sejak masa Demokrasi Terpimpin hingga Orde Reformasi. Di masa Orde Baru khususnya sensor ini dijalankan dengan sangat ketat. Hingga kini lebih dari 60 buah film dilarang beredar. Sebagian besar dari film-film itu diproduksi pada masa Orde Baru. Film-film yang kena celak itu ada yang tertahan bertahun-tahun di meja sensor atau ditarik dari peredaran karena protes dari segolongan orang atau masyarakat. Film harus disensor berlapis-lapis melalui berbagai lembaga seperti Departemen Penerangan dan Laksusda. Bahkan pejabat publik pun dapat menghentikan pemutaran film karena alasan pribadi.

Di masa Orde Reformasi sekalipun, yang konon menjalankan keterbukaan, masih ada film-film yang dilarang beredar karena berbagai alasan.

Berikut ini adalah daftar film Indonesia yang kena cekal sejak masa Demokrasi Terpimpin, hingga Orde Reformasi, dan alasan-alasannya seperti yang tertulis di wikipedia indonesia dan sumber-sumber lainnya.

  • Pagar Kawat Berduri ( 1961 ), diganyang oleh PKI, diselamatkan Presiden Soekarno, namun tetap tak bisa diputar di bioskop.
  • Tiada Jalan Lain ( 1972 ), karena produsernya, Robby Tjahjadi terlibat dalam kasus penyelundupan mobil mewah
  • Romusha (1972), dianggap dapat mengganggu hubungan dengan Jepang.
  • Inem Pelayan Seksi ( 1976 ), diharuskan berganti judul dari judul semula Inem Babu Seksi.
  • Wasdri ( 1977 ) skenarionya dianggap bisa menyinggung pejabat Kejaksaan Agung, karena Wasdri, buruh angkut di Pasar Senen, Jakarta hanya diberi upah oleh seorang istri Jaksa hanya separuh dari yang biasanya ia terima.
  • Yang Muda Yang Bercinta (1977), dianggap mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi dari paham komunis.
  • Bung Kecil ( 1978 ), isinya tentang orang muda yang melawan feodalisme.
  • Bandot Tua (1978), dipangkas habis-habisan dan diganti judulnya menjadi Cinta Biru, karena kata “Bandot” dinilai bermakna negatif.
  • Petualang Petualang (1978), judulnya diharuskan diubah dari “Koruptor, Koruptor”. Film ini mengisahkan berbagai bentuk korupsi besar-besaran.
  • Buah Hati Mama ( 1983 ), memuat dialog tentang kakek yang pintar menyanyi karena berteman dengan mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso. Bagian ini digunting habis.
  • Saidjah dan Adinda ( 1988 ), judul berubah dari Max Havelaar dan menggambarkan Max Havelaar yang berhati mulia, sementara penguasa pribumi justru menghisap rakyat.
  • Pembalasan Ratu Laut Selatan (1988) karena eksploitasi seks
  • Jurus Maut
  • Kuda Kuda Binal
  • Cinta Biru
  • Kanan Kiri OK, diharuskan berganti judul dari Kiri Kanan OK karena kata 'Kiri' memberi kesan PKI.
  • Tinggal Landas, sutradaranya, Sophan Sophiaan, diminta menambahkan kata Buat Kekasih, karena Indonesia saat itu sedang dalam proses tinggal landas.
  • Nyoman dan Presiden ( 1989 ), diminta agar judulnya diubah menjadi Nyoman dan Bapaknya, Nyoman dan Kita, Nyoman dan Bangsa, Nyoman dan Merah Putih, atau Nyoman dan Indonesia.
  • Buruan Cium Gue (2005), diprotes oleh AA. Gym dan Majelis Ulama Indonesia karena dianggap mengusik perasaan susila masyarakat.
Nah, film - film diatas adalah sebagian kecil dari mungkin puluhan atau ratusan film lainnya yang kena cekal, untuk anda yang tahu silahkan tambahkan saja.

Film Animasi Kartun Televisi dan Kekhawatiran Kita

JOKO SANTOSO, KEDAULATAN RAKYAT - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil pihak Global TV terkait dengan penayangan film animasi ‘Naruto’. Sebagaimana dipublikasikan pihak KPI melalui situs internet www.kpi.go.id, langkah ini ditempuh sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat yang masuk ke lembaga negara independen tersebut.

Melalui websitenya, KPI juga menginformasikan bahwa lembaga ini telah mengirim tim investigasi ke Semarang, Jawa Tengah untuk mencari tahu penyebab kematian Revino Siahaya, anak berusia 10 tahun, yang disinyalir bunuh diri akibat meniru gaya dalam film kartu Naruto.

Berdasarkan hasil penyelidikan pihak yang berwajib, memang itdak ada indikasi adanya pengaruh film tersebut terhadap kematian Revino. Tetapi menurut KPI kasus ini menimbulkan keresahan dari masyarakat akan sinyalemen bahwa film kartun Naruto mempunyai pengaruh buruk terhadap perilaku anak.

Kasus Naruto tersebut menambah panjang catatan ihwah film animasi kartun televisi yang mendapat protes masyarakat. Kita tentu masih ingat, beberapa waktu silam film animasi kartun Sinchan dan Doraemon, banyak mendapat kritik bagi masyarakat karena dinilai kurang edukatif dan tidak sesuai untuk anak-anak.

Sinchan dalam beberapa serialnya menampilkan perilaku yang menjurus ke arah pornografi. Sementara film animasi kartun Doraemon banyak disoroti karena memanjakan tokoh Nobita dengan hal-hal yang bersifat instan. Ini menyebabkan tokoh Nobita menjadi sosok anak yang malas dan kurang mandiri, selalu mengandalkan Doraemon dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Perilaku kedua tokoh kartun tersebut, dikhawatirkan pihak orangtua bisa memberi pengaruh negatif bagi perkembangan anak.

Kembali pada Naruto, pada dasarnya film ini memang cukup menarik. Bercerita tentang petualangan seorang bocah dari perkampungan ninja bernama Konoha. Film animasi kartun ini menampilkan hal yang berbeda dari sosok ninja pada umumnya. Tokoh-tokoh ninja dalam kisah Naruto tampil lebih terbuka, fashionable, lepas dari mainstream figur ninja klasik yang cenderung berpenutup wajah dan misterius. Begitu pula dengan persenjataan. Kalau ninja klasik banyak mengandalkan kepiawaian dalam memainkan jurus samurai, tombak dan senjata rahasia, maka Naruto dan kawan-kawan digambarkan lebih hebat dari itu. Mereka tidak lagi tergantung pada senjata konfensional karena memiliki kesaktian luar biasa.

Dengan menggunakan teknis animasi modern, ilmu-ilmu yang ditampilkan menjadi tampak hebat, dramatik, dan heroik. Wajar apabila banyak disukai oleh anak-anak. Tapi, di lain sisi, harus diakui, sepanjang film ini selalu tak lepas dari adegan kekerasan. Pertempuran yang tak jarang berujung pada pembunuhan, selalu menjadi pilihan dalam menyelesaikan setiap masalah, yang diangkat sebagai inti cerita. Tidak berlebihan apabila orangtua menjadi khawatir.

Bila kita cermati, sebenarnya memang banyak film animasi kartun di televisi yang menampilkan adegan kekerasan. Ironisnya, animasi kartun di televisi bagi sebagian besar masyarakat masih dianggap sebagai film anak-anak. Padahal kita tidak tahu, film impor tersebut di negara asalnya apakah memang jelas-jelas untuk konsumsi anak-anak, atau tidak?

Sebagai contoh, film animasi kartun ‘Tom and Jerry’ yang populer dan sangat digemari oleh anak-anak. Banyak orangtua yang merasa aman-aman saja dan membiarkan buah hati mereka menonton animasi kartun tanpa perlu mendampinginya. Padahal, film animasi karya duo animator William Hanna dan Joseph Barbera ini bila diperhatikan sarat dengan adegan kurang terpuji. Film kartun legendaris yang pertama kali diproduksi tahun 1940 ini, hampir di setiap penayangannya tampil penuh kekerasan maupun keisengan yang cenderung ekstrem. Perseteruan abadi tokoh kucing dan tikus ini selalu diwarnai dengan upaya saling mengalahkan dengan melakukan pemukulan, penusukan, pembakaran, jebakan, peledakan, penyiksaan terhadap masing-masing tokoh maupun perusakan materi seperti melempar piring, membanting gelas dan lain sebagianya. Meski semua itu dikemas dalam balutan humor, sehingga tampak jenaka, namun bagi anak-anak yang belum bisa berpikir panjang bisa jadi apa yang diperagakan oleh tokoh Tom dan Jerry dianggap sebagai legalitas bagi mereka untuk melakukan hal serupa dalam pergaulan sehari-hari.

Lalu bagaimana seharusnya? Film animasi yang bagaimana yang benar-benar ideal untuk anak-anak? Memang sulit untuk menemukannya. Tapi tak menutup kemungkinan, bahwa dampak negatif yang selalu dikhawatirkan masyarakat atas film kartun animasi televisi terhadap anak, bisa diminimalisir.

Misalnya; (satu); ada pelabelan atau pengkategorian yang jelas dan tegas dari KPI atau lembaga terkait terhadap film animasi kartun televisi, apakah untuk anak-anak, remaja, dewasa, atau segala usia; (dua), pihak LSF lebih ketat lagi dalam melakukan sensor; (tiga), orangtua menyempatkan waktu untuk selalu mendampingi anak-anak saat menonton film animasi kartun, dan siap memberikan penjelasan seperlunya apabila ada adegan yang tak pantas untuk anak-anak; (empat), komitmen pihak televisi untuk memproduksi film animasi kartun bernuansa budaya lokal, sekaligus sebagai upaya memberdayakan dan mengakomodasi potensi animator dalam negeri.

Mengingat dewasa ini ilmu dan teknik animasi banyak diajarkan secara akademis di perguruan tinggi seni maupun teknik informatika, maka anak bangsa yang handal dan potensial membuat film animasi cukup melimpah. Banyak cerita rakyat dan kisah-kisah budi pekerti yang bisa diaktualisasikan kembali menjadi animasi kartun televisi, sehingga kita tidak dijajah produk film impor, dan tanpa disadari dipaksa untuk permisif terhadap budaya asing melalui setting, istiadat dan perilaku para tokohnya yang belum tentu sesuai dengan budaya Indonesia.

Joko Santoso SSn, Alumnus Diskomvis ISI Yogyakarta, penggemar film kartun.
Sumber: Kedaulatan Rakyat, 16 Pebruari 2008

Minggu, 27 April 2008

"Lost in Love", Persembahan Terbaru Rachmania Arunita

Jakarta-RuangFilm. Setelah Eiffel I’m In Love, yang sukses di pasaran, Rachmania Arunita kembali ingin mengangkat karyanya berjudul Lost in Love ke layar lebar. Novelnya telah di rilis 2007, dan kini penulis yang akrab dipanggil Nia ini, untuk pertama kalinya terjun langsung menjadi penulis skenario sekaligus sutradara dari karya terbarunya.

Film ini memberi kesempatan pada talent–talent muda untuk unjuk gigi. Masa produksi film ini berlangsung selama 24 hari di Perancis dan 3 hari di Indonesia, yang diperankan oleh Pevita Pearce (sebagai Tita), Richard Kevin (sebagai Adit), Arifin Putra (sebagai Alex). Film ini juga didukung oleh para pemain lain, seperti George Rudy, Barry Prima, Adrian Subono, Chrisye Subono.

Dengan mengambil setting gambar 80 persen pesona kota Paris yang romantis, Lost In Love menelan biaya tidak sedikit. “Budget yang digunakan kurang lebih mencapai belasan milyar,” kata Nia, saat ditemui pada press conference film ini di CafĂ© F Bar, EX Plasa, Jakarta. Nia juga mengungkapkan, bahwa kru film ini memakai 25 orang tenaga dari Perancis. Tidak ketinggalan, grup band Tangga yang turut mempersembahkan album ke-3 nya untuk menjadi soundtrack film ini.

Semoga film ini dapat mengikuti kesuksesan Eiffel I’m In Love yang banyak diminati masyarakat dan sanggup bersaing ditengah maraknya kancah perfilman dalam negeri. Lost in Love akan diputar pada 22 Mei 2008 di bioskop–bioskop kesayangan Anda. (Nur Widyatmo)

"Kalau Cinta Jangan Cengeng", Saat Aktor Komedi Bermain Drama

Jakarta-RuangFilm. Ingin tahu bagaimana jika seorang aktor komedi harus bermain serius, maka Anda dapat menunggu rilis film Kalau Cinta Jangan Cengeng, produksi SinemArt Pictures. Diluar kebiasaan para pemain film ini justru merupakan orang yang dikenal lucu dan kocak, tengok saja nama Ringgo Agus Rachman, Jojon dan Vincent “Club Eighties”.

Monty Tiwa, sutradara yang juga memulai debut genre drama pertamanya lewat film ini mengungkapkan, bahwa sejak awal ia sangat tertantang untuk membuat film drama dan kebetulan Ringgo yang menjadi pemeran utamanya juga memiliki keinginan sama. “Saya memang spesialisasi di genre komedi, jadi drama merupakan tantangan baru buat saya,” ujarnya.

Sementara, Ringgo mengaku sangat senang dengan peran ini. “Terimakasih untuk Mas Monty yang selalu ngasih gue peran-peran tidak terduga, buat gue ini merupakan anugerah sekaligus tantangan,” ujarnya. Meski demikian, ia juga mengaku cukup terbebani dalam menyelami karakternya di film ini.

“Jujur aja, sampai sekarang, gue takut kepekaan gue untuk setiap scene yang gue peranin nggak dapet aja, nggak keluar seperti yang diinginkan,” tambah aktor yang melejit lewat film komedi Jomblo tersebut.

Kalau Cinta Jangan Cengeng bercerita mengenai kehidupan seorang aktor, Boy (Ringgo), yang dihantui rasa bersalah karena telah menabrak sebuah keluarga, yang mengakibatkan 2 orang tewas, dan 1 orang anak yang mengalami luka berat. Saat itu Boy sedang dalam pengaruh narkoba. Rasa bersalahnya itu ia tebus dengan menjadi seorang Duta Anti Narkoba, yang memberikan penyuluhan di panti-panti rehabilitasi.

Saat sedang berkampanye itulah secara tidak sengaja Boy dipertemukan dengan korbannya, Yani, yang sekarang telah menjadi penghuni panti rehabilitasi. Untuk menebus rasa bersalahnya, ia mencoba membantu Yani sembuh dari ketergantungan narkoba. Tapi, apakah semudah itu proses yang harus Boy jalani ? Apakah yang kemudian terjadi di antara mereka berdua?

Film ini juga merupakan debut layar lebar untuk Marshanda, aktris muda yang banyak tampil dalam sinetron tanah air. (Rep:Musashi, Foto: Tonny)

Sinemart Gaet Hanung dan Aming dalam “Doa Yang Mengancam”

Jakarta-RuangFilm. Usai dikabarkan sibuk dalam rencana produksi film Ketika Cinta Bertasbih, Sinemart Pictures yang belum menelurkan satu film pada kuartal pertama 2008 ini menggaet Hanung Bramanto di film religi. Film yang rencananya akan dibintangi oleh Aming dan Titi Kamal serta beberapa aktor senior seperti Deddy Sutomo dan Nani Wijaya.

Dini Suryani, PR dan Promotion SinemArt mengungkapkan, bahwa film ini merupakan satu dari rencana tujuh film yang siap di produksi oleh SinemArt Pictures. “Jadi, sejak Mei nanti kita akan mempersiapkan sekitar tujuh film, Doa Yang Mengancam akan menjadi film pertama yang mulai di produksi.”

Ide cerita berasal dari sebuah cerita pendek yang kemudian penggarapan skenarionya akan dipercayakan kepada Jujur Prananto (Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta). Ceritanya berkisar seputar Madrim yang sukses menikahi Leha dengan berbekal rayuan maut dan kehidupan mewah di Jakarta. Sayangnya, kenyataan berkata lain, Madrim yang hanya buruh bongkar muat di pasar induk, tak kuasa lagi mempertahankan Leha. Istrinya itu minggat dari rumah!

Ditengah kemiskinan dan penderitaan hatinya, Madrim mengadu pada Kadir, lelaki penjaga mushola kecil. Kadir pun menyarankan apa yang disarankan hampir setiap orang tua kepada anaknya, petuah lama yang berbunyi; bekerja keras diiringi doa. Dan, Madrim pun kembali giat bekerja, dan terus berdoa di mushola Kadir. Sayangnya, kehidupan Madrim tak kunjung membaik, pun Leha semakin tak berkabar berita. Kekesalan semakin menumpuk di dada Madrim, dan dalam salah satu doa terakhirnya, Madrim pun mengancam TUHAN!

Dalam press rilis yang dikeluarkan oleh Fajar Nugross, Line Produser dari Dapur Film Community, proses syuting yang direncanakan selama 20 hari akan dimulai sekembalinya Hanung dari umroh pada 24 April mendatang. Direkam diatas pita Kodak 35 mm dan kamera 535, dengan lokasi hampir seluruhnya di seputaran Jakarta dan Depok. Hampir seluruh tim produksi Ayat-Ayat Cinta dan Get Married terlibat dalam produksi Doa Yang Mengancam, mulai dari Director of Photography Faozan Rizal, Costume Designer Retno Ratih Damayanti, serta sound, Adimolana, sementara Art Director dipercayakan pada Oscar Firdaus. (Musashi)

Sabtu, 19 April 2008

"Ketika Cinta Bertasbih"; SinemArt Berangkatkan Tim ke Mesir

Jakarta-RuangFilm. Menindaklanjuti keinginan besar penulis novel Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik), rumah produksi SinemArt Pictures memberangkatkan tim ke Mesir untuk melakukan survei lokasi dan mengurus perizinan yang diperlukan pada Selasa, (15/04). Ikut dalam tim antara lain Kang Abik, Imam Tantowi (penulis skenario), Chaerul Umam (sutradara), Hendriarto (Produser), Ahmad Munif (Manajer/Adik Kang Abik), dan tim sebanyak 20 orang.

Adapun agenda lengkap selama 10 hari di Cairo antara lain, bertemu Duta Besar RI untuk Cairo, bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Cairo, Dewan Film Cairo, salah satu Production House di Cairo, Agency / Talents Management, Rental Equipment, laboratorium film, dan lain-lain. Juga menjajaki tempat-tempat yang disebutkan dalam novel, seperti pantai Alexandria, kampus Al-Azhar, pasar tradisional, dan lain-lain.

Chaerul Umam mengungkapkan, bahwa keberangkatan tersebut merupakan wujud keseriusan tim produksi untuk dapat menghadirkan suasana yang sesuai dengan cerita dalam novel. "Targetnya ya menemukan lokasi yang sesuai skenario dan cerita dalam novel. Jadi, keberangkatan kami merupakan ikhtiar untuk dapat menghadirkan suasana asli seperti dalam novel (KCB 1), karena 80% setting tempatnya berada di Kairo," ungkapnya.

Lebih lanjut, sutradara Ramadhan dan Ramona serta Titian Rambut Dibelah Tujuh ini memaparkan, bahwa selain persoalan birokrasi, perizinan dan pemilihan lokasi, tim juga akan melihat dan memilih studio/rumah produksi lokal yang dapat diajak bekerja sama sesuai kebutuhan. Karena menurut peraturan pemerintah Mesir, proses syuting harus melibatkan studio/rumah produksi lokal. "Yah, kita juga coba ngecek equipment yang dibutuhkan untuk proses nantinya, karena meski bisa saja membawa peralatan dari tanah air tapi kabarnya standar yang dipakai disana lebih bagus dan yang pasti lebih praktis."

Ketika Cinta Bertasbih merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel laris karya Habiburrahman El Shirazy, setelah sebelumnya Ayat Ayat Cinta. (Musashi)

Kamis, 17 April 2008

Perjuangan Hidup di Film “Mas Endang” Karya Sutradara Jepang

Jakarta-RuangFilm. Banyak orang yang ingin mengetahui, dan bertambah meski hanya satu orang. Tentang kematiannya yang penuh keberanian. Tentang anak muda asal desa Ender di Cirebon, Jawa Barat, yang pergi ke Jepang dengan penuh impian, meninggal dalam usia muda di Jepang. Agar kematiannya yang tragis dan mengharukan tidak dilupakan, di kemas dalam film dokumenter berjudul Mas Endang (2008) karya Takahiro Murasawa, di Japan Foundation, Jakarta, pada Sabtu (29/3) siang.

Film berdurasi sekitar satu jam tersebut berawal dari dua siswi sekolah menengah pertama yang bermain dan berenang di pantai di Pulau Kyuushu tengah terseret dan tenggelam ombak yang ganas. Kemudian, Endang Aripin (21), pemuda Indonesia yang tengah belajar praktek tentang penangkapan ikan laut milik Profektur Hyuga Miyazaki memberanikan menceburkan diri ke tengah laut untuk menolong dua siswi asal Jepang yang terseret ombak ganas.

Tak disangka, Endang tewas tersapu gelombang dan tenggelam pada hari itu juga (12/08/2007). Namun, dua siswi tersebut selamat. Kemudian, regu penyelamat kelautan Jepang berupaya mengangkat tubuh Endang dengan disaksikan puluhan warga Jepang yang menyaksikan di pinggir pantai.

Selain upaya pertolongan dari regu penyelamat, film tersebut memberi sejumlah kesaksian dari orang-orang terdekat Endang. Beberapa komentar tak hanya datang dari keluarganya di desa, namun rekan-rekan warga asli Jepang tempat Endang belajar menuturkan pengalaman manis semasa dia hidup. Dimata pengajar dan rekan-rekannya di Jepang, Endang Aripin kerap disanjung dan dipuji karena pekerjaannya yang disiplin, tidak bosan bekerja keras dan tidak mengenal batasan dalam bergaul.
Selain memutar film, ada pameran sejumlah foto kenangan, surat pribadi dari dua siswi Jepang untuk Endang, kekasihnya dan tulisan-tulisan artikel dari surat kabar Jepang yang memberitakan ‘perjuangan’ Endang. (Ceppy Febrinika Bachtiar)

Minggu, 13 April 2008

MUI Sambut Gembira Pembuatan Film "Ketika Cinta Bertasbih"

Jakarta-RuangFilm. SinemArt Pictures,, rumah produksi yang rencana akan membuat film Ketika Cinta Bertasbih kembali melanjutkan silaturahmi. Setelah sebelumnya menyambangi kediaman Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid dan bertemu dengan Ketua PP Muhammadiyah, Din Sjamsuddin di kantor, kini rombongan pimpinan produser Heru Hendriyanto tersebut mendatangi kantor MUI di Istiqlal. Tampak dalam rombongan yang datang, sutradara, Chaerul Umam, Eka (pimpinan produksi), Dani Sapawi dan Abdul Aziz (manajer promosi). Sementara, Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy yang biasanya ikut, kali ini tak hadir.

Sambutan hangat ditunjukkan oleh jajaran pengurus harian MUI yang menerima kunjungan tersebut, Prof.Dr.H. Umar Shihab, Drs.H.A. Nazri Adlani,Prof.Dr.Hj. Chuzaimah T. Yanggo, Prof.Dr.H. Amir Syarifuddin, K.H. Khalil Ridwan, Lc. dan Sekretaris Drs.H. Anwar Abbas, MM., Drs.H. Zainut Tauhid Saadi. Dalam kesempatan itu, masing-masing ulama mengemukakan pendapat dan memberikan masukan mengenai rencana SinemArt ini.

Dalam pernyataannya, Prof.Dr. H. Umar Shihab mengungkapkan kegembiraannya akan rencana tersebut. “Saya menyambut gembira rencana SinemArt untuk membuat film ini, karena film sebelumnya, Ayat Ayat Cinta (AAC) yang juga diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy terbukti memperoleh sambutan baik dari masyarakat,” ungkapnya. Ia juga menambahkan, bahwa fakta AAC di tonton dan digemari oleh masyarakat dari kalangan atas, menengah dan bawah hingga menarik perhatian presiden dan wakil presiden mengisyaratkan, bahwa film dengan nuansa religi dan digarap dengan baik akan mendapat apresiasi positif.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan harapan agar Ketika Cinta Bertasbih dapat menitik beratkan pada mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak menyinggung perasaan agama lain, golongan lain atau pihak-pihak tertentu, sehingga terlepas dari masalah SARA. Namun, Ketua MUI juga menyatakan, bahwa apapun masukan yang nantinya akan diberikan tidak akan mengintervensi kerja dari sutradara dan produser film. “Saya harap film ini bisa menjadi film yang murni seni, dakwah dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, secara simbolis SinemArt menyerahkan novel Ketika Cinta Bertasbih kepada pihak MUI yang diterima oleh Prof.Dr. H. Umar Shihab. (Rep. Musashi – Foto. Tonny/RuangFilm)

Film “Fitna” Lecehkan Islam, FPI Desak Hubungan Diplomatik Dengan Belanda Diputus

Jakarta-RuangFilm. Beragam reaksi muncul terkait film “Fitna” yang beredar di internet sejak Jumat (28/3) lalu. Salah satunya, dari Front Pembela Islam (FPI). Siang (31/3) tadi, ratusan anggota FPI berunjuk rasa mendatangi kantor Kedubes Belanda, Kuningan, Jakarta untuk mengutuk keras pemerintah Belanda, karena warga negaranya yang juga anggota parlemen, Teert Wilders mengeluarkan film “Fitna” yang telah menghina umat Islam.

Selain meminta pemerintah RI untuk menarik Dubes Indonesia untuk Belanda sebagai bentuk protes penghinaan terhadap Islam, FPI juga menuntut boikot terhadap produk Belanda. Spanduk besar bertuliskan “Holland go to Hell” juga mereka usung dalam aksi tersebut.

Usai berorasi, massa kemudian langsung melempari halaman Kedubes Belanda dengan telur busuk dan air. Pecahan telur tersebut berserakan dan mengotori halaman Kedubes Belanda dan menyebabkan bau amis.

Dari pantauan RuangFilm, terlihat tiga kompi dari Samapta Polda Metro Jaya dan 1 unit mobil water canon dari Brimob Polda Metro Jaya yang berjaga-jaga di sekitar Kedubes Belanda. Maka, kemacetan pun bertambah parah di jalur lambat dari arah Mampang Prapatan. Begitu juga dengan jalur lambat Jl. HR. Rasuna Said ke arah Menteng yang macet sekitar 1 km.
Ketua lembaga dakwah FPI Faturrachman Djaelani menyatakan permintaan maaf untuk pemerintah Belanda secepatnya terkait film “Fitna” tersebut. Faturachman juga mengatakan, selain melakukan pemutusan hubungan diplomatik, FPI juga akan men-sweeping warga Belanda di Indonesia. (Ceppy Febrinika Bachtiar)

AAC Sukses, Hanung Segera Garap Film “Kyai”

Jakarta-RuangFilm. Setelah sukses dengan film Ayat-ayat Cinta (AAC), Hanung Bramantyo hendak menggarap film terbarunya berjudul "Kyai". Film terbarunya tersebut mengisahkan tentang pendiri Muhammadiyah, Kyai Ahmad Dahlan.

Hingga saat ini, Hanung Bramantyo tengah melakukan riset bersama tim-nya untuk memperdalam materi dalam membuat film tentang Kyai Ahmad Dahlan.

“Tim ini untuk melakukan riset mengenai sosok Ahmad Dahlan, baik itu kehidupan pribadi maupun lingkungannya,” ungkap Hanung, ditemui di Plasa Senayan, pekan lalu saat nonton bareng film AAC dengan Wapres Jusuf Kalla.

Sementara, ide untuk membuat film mengenai Kyai Ahmad Dahlan muncul sebelum dia menggarap AAC. Segala persiapan yang dilakukan, membuat Hanung harus bekerja keras guna mendapatkan kualitas.

“Film yang akan saya buat ini sudah ada calon investornya, tentu saja untuk membiayai film (Kyai) yang saya garap nanti,” ujar Hanung.

Sementara, Hanung juga mengungkapkan keinginannya untuk mencari narasumber-narasumber yang dapat berbicara banyak mengenai Ahmad Dahlan. Hanung terinspirasi dengan Ahmad Dahlan oleh gerakan Al-Ma’un-nya yang selalu mengajarkan untuk selalu berbuat sesuatu pada umat.

Kepedulian Ahmad Dahlan pada bidang kependidikan juga membuat Hanung hendak membuat film tentang tokoh pendiri Muhammadiyah ini. Bagaimana hasilnya? Akankah film “Kyai” akan mendulang sukses seperti AAC? (Ceppy Febrinika Bachtiar)

Ketua MPR Siap Bantu Syuting "KCB" di Mesir

Jakarta-RuangFilm. Ketua MPR RI menyatakan kesanggupannya untuk membantu terlaksananya proses syuting di Kairo. Pernyataan tersebut terungkap dalam kunjungan silaturahmi yang dilakukan oleh tim produksi film Ketika Cinta Bertasbih di kediaman Hidayat Nur Wahid, Selasa (25/3) kemarin. "Insya Allah, akan saya bantu untuk bisa syuting di Kairo," ungkapnya.

Dalam kunjungan oleh Chaerul Umam (Sutradara), Habiburrahman El Shirazy (penulis novel), Ahmad Munif, S.H.I (Manajer Kang Abik) dan perwakilan dari rumah produksi SinemArt Pictures antara lain, Heru Hendriyanto (Produser), Abdul Aziz (Manager Promosi) dan Dani Sapawi sempat diserahkan novel "Ketika Cinta Bertasbih" sebagai tanda mata.

Menanggapi rencana SinemArt untuk memfilmkan novel tersebut, Hidayat menyatakan sangat apresiatif dengan ide tersebut. Selain itu ia juga menambahkan, bahwa apa yang sudah ditunjukkan oleh Ayat Ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) nantinya merupakan bagian dari upaya memberikan tontonan yang baik bagi masyarakat. “Masyarakat kita memerlukan tontonan alternatif yang berkualitas. Sehingga bangsa kita tidak dipenuhi dengan tontonan yang tidak rasional atau sekedar horor, eksploitasi seks serta kekerasan,” ujarnya.

Mantan Presiden Partai Keadilan (PK) ini juga menambahkan, bahwa respon positif masyarakat terhadap film AAC menumbuhkan harapan yang sama terhadap film KCB nantinya. Sehingga, setidaknya KCB bisa menyamai atau bahkan lebih baik hasilnya dari AAC. “Peluangnya masih sangat terbuka, mengingat AAC masih menyisakan ruang untuk film selanjutnya (KCB) seperti menampilkan suasana asli Mesir,” tegasnya. (Musashi)

"Ketika Cinta Bertasbih" Akan Gelar Audisi Terbuka

Jakarta-RuangFilm. Bagi Anda yang merasa cocok untuk memerankan salah satu karakter dalam novel "Ketika Cinta Bertasbih", silahkan bersiap-siap, karena SinemArt Pictures akan menggelar audisi terbuka untuk pemeran film ini. Ini diutarakan oleh produser film dari SinemArt, Heru Hendriyanto ketika ditanya mengenai kemungkinan pemeran tokoh dalam novel nantinya.

“Untuk pemilihan pemain yang memerankan karakter yang ada, kami akan segera adakan audisi terbuka. Jadi, tidak tertutup kemungkinan bagi para pembaca novel yang merasa memiliki kemampuan dan cocok dengan salah satu karakter untuk ikut serta, tidak hanya artis kok,” jelas Heru.

Upaya ini dilakukan SinemArt agar memperoleh karakter yang benar-benar cocok dan sesuai persyaratan dari penulis novel, Habiburrahman El Shirazy. Kang Abik mengungkapkan secara khusus keinginannya agar film ini bisa lebih baik dari Ayat Ayat Cinta dan dapat mendekati atmosfir aslinya dalam novel. “Sebenarnya tidak ada persyaratan yang mutlak, namun jika mau di rinci, pertama saya ingin sekali agar sebisa mungkin dekat dengan setting asli. Kemudian, untuk pemain, yaitu yang bisa menghayati karakter tokoh dalam novel dan secara moral bersih,” ungkap penulis yang total menghasilkan tujuh buah novel ini.

Lebih lanjut, Kang Abik juga mengungkapkan, bahwa yang dimaksud bersih secara moral ya dilihat dari dhohirnya. Ia juga menambahkan, bahwa untuk audisi terbuka tersebut ada tes kemampuan membaca Al Qur’an untuk karakter-karakter yang memang dituntut demikian.

“Untuk tes kemampuan membaca Al Qur’an, ya itu bagian dari profesionalisme. Contohnya, untuk karakter Azam yang digambarkan sangat pandai membaca Al Qur’an, maka salah satu tesnya harus fasih membaca Al Qur’an dong,” ujarnya.

Sementara, Abdul Aziz, manajer promosi dari SinemArt Pictures mengungkapkan, bahwa audisi terbuka memang telah direncanakan dan diperhitungkan dalam proses produksi. Untuk pelaksanannya, akan segera diumumkan, mengingat target tim produksi untuk dapat menyelesaikan film pada Agustus. (Musashi-RuangFilm)

Anda berminat, berikut alamat rumah produksi ini.

SinemArt Pictures
d/a
Plaza Kedoya Elok Blok DD 61/62
Jakarta 11560
Telp. 021 5806901

18 Februari 2008, Gala Premiere Ayat-Ayat Cinta

Jakarta-RuangFilm. Setelah harus menunggu selama kurang lebih dua bulan, akhirnya Ayat-Ayat Cinta, film yang diangkat dari novel laris Habiburrahman El Shirazy akan mengadakan tayang premiere Senin besok (18/2). Acara premier akan berlangsung di Plaza Senayan XXI sejak pukul 20.30 WIB.

Film karya Hanung Bramantyo, Sutradara Terbaik versi FFI 2007 tersebut memang menempuh perjalanan cukup panjang sebelum dapat dinikmati oleh masyarakat. Sempat akan dirilis pada 19 Desember 2007 lalu, Ayat-Ayat Cinta ternyata baru menyelesaikan seluruh proses teknis pada akhir Januari 2008. Meski demikian, hal tersebut ternyata tidak mengurangi minat dari masyarakat untuk menyaksikan film produksi MD Pictures ini, mulai dari email, surat, hingga pesan singkat yang diterima oleh redaksi ternyata menunjukkan bahwa, film ini merupakan salah satu film yang paling dinanti kehadirannya tahun ini.

Meski menuturkan banyak kendala hingga kegagalan untuk melakukan syuting di Mesir, lokasi yang menjadi setting dari cerita dalam novel aslinya, Manooj Punjabi, produser film tersebut tetap mengungkapkan optimismenya bahwa, Ayat-Ayat Cinta tetap akan menghadirkan banyak kejutan dan layak untuk diapresiasi. Akankah film ini sesuai dengan harapan banyak penonton? Jangan khawatir, Anda akan dapat segera membuktikan pada 28 Februari 2008 di bioskop kesayangan.